Senin, 23 Desember 2013

Hutan Nantu , Jurassic Park Indonesia

Seperti dalam film Jurassic Park, pohon besar menjulang tinggi dikelilingi beragam tanaman merambat, juga rotan dan akar beringin. Pohon Rao raksasa tumbuh dan saling berdekatan satu sama lain, di selanya tumbuh tanaman rimba lainnya tidak menyisakan ruang bagi sinar Matahari jatuh ke tanah. Lembab dan becek mempecepat pembusukan daun dan juga kayu lapuk.
Barisan semut tak henti berlalu membawa potongan daun dan bangkai serangga mati, cendawan merah lunak menempel di cabang pohon yang membusuk, jamur ini berpendar malam hari. Suara serangga dan hewan lain bersahutan, sesekali suara burung Julang Sulawesi (Rhyticeros Cassidix) menyela.







Hutan hujan tropis yang asli ini di hutan Gorontalo, di Suaka Margasatwa Nantu. Hutan ini merupakan kekayaan dunia yang sangat penting, karena nantu merupakan salah satu dari sedikit hutan di Sulawesi yang masih utuh. Pohon raksasa Rao (Dracontomelum Dao), Nantu (Nyatoh), pohon Inggris (Eucalyptus Deglupta) beradu tinggi dengan rotan batang yang merambatinya, tidak terhitung hidupan liar yang di bawahnya.



Suaka Margasatwa Nantu merupakan kawasan hutan seluas 31.000 ha yang menjadi kekayaan dunia. Di kawasan ini merupakan bagian dari bio-geografi Wallacea yang kaya keanekaragamanhayatinya. Nantu merupakan zona transisi dan campuran antara fauna Asia dan Australia. Di rimba ini hidup secara baik satwa yang tidak ada di bagian dunia lain seperti Anoa (Bubalus Depressicornis), Babi rusa (Babyroussa babbyrussa), Monyet Sulawesi (Macaca Heckii), Tarsius (Tarsius Spectrum), Babi Hutan (Sus Celebensis). Di hutan ini juga hidupan bagi 90 spesies burung, yang 35 jenis diantaranya adalah endemik. Hutan ini juga menjadi penyangga bagi kesetersediaan air bagi puluhan ribu masyarakat yang mendiami daerah di bawahnya.

Untuk menuju hutan Nantu, perjalanan dimulai dari ujung desa Mohiolo. Di sini ada perahu yang akan mengantarkan pengunjung menyusuri sungai Paguyaman yang keruh. Selama 2,5 jam disuguhi hidupan burung air yang eksotik. Bangau putih mendominasi, mereka berjemur di bebatuan pinggir sungai, di atas pohon tumbang hingga bertengger di semak perdu kanan-kiri sungai,bebek telaga yang biasa disebut Duwiwi juga senang bergerombol di pinggiran sungai. Tak terhitung jenis lain seperti Raja Udang, juga Bangau hitam berleher panjang yang sulit dijumpai dengan mudah disaksikan di sini, juga betet kelapa punggung biru hingga burung pendeta.







Semakin mendekati hutan, banyak dijumpai tanah kosong yang hanya ditumbuhi rerumputan yang tidak memiliki nilai ekonomi. Sepertinya setelah masyarakat mengambil kayu, lahan dibiarkan terlantar tak terurus. Tidak semua jalur sungai mulus dilalui, ada bagian yang harus dangkal dan harus diwaspadai pengemudi ketinting.

Suami tokoh pendidikan kepribadian, Mien R. Uno ini seakan lupa usianya, ia tetap semangat sambil menenteng 2 ranselnya, satu berisi kamera dan perlengkapan dan satunya berisi pakaian. “Saya teringat 60-an tahun yang lalu saat diajak ayah menyusuri hutan mangrove di pantai utara Gorontalo, berliku diantara pohon bakau tua” kenangnya.
Hutan Nantu merupakan tempat yang baik bagi perkembangan Anoa, Babi rusa dan satwa endemik Sulawesi lainnya. Di Nantu ini bisa dengan mudah dijumpai satwa tersebut. Babi rusa sejak 1996 dinyatakan langka dan dilindungi pemerintah Indonesia dan hukum internasional karena sudah masuk dalam buku merah IUCN dab CITES.

Hewan ini sangat unik, memiliki taring yang tumbuh dari hidung dan bengkok ke belakang di depan matanya. Menurut Abdul Haris Mustari, dosen IPB Bogor, hutan Nantu merupakan tempat terbaik bagi satwa endemik, khususnya Babi rusa di daratan Sulawesi. Hal ini terjadi karena ada keunikan alam yang dimilikinya, air panas yang mengandung sulphur dan bergaram, padahal daerah ini letaknya 40 km dari garis pantai. Di tempat ini merupakan tempat yang terbaik untuk menyaksikan satwa langka yang menjadi maskot Sulawesi.


Yang unik juga, rotan berbagai jenis tumbuh subur. Rotan batang yang paling banyak dijumpai menjulur berpuluh meter di atas pohon yang disandarinya. Pohon rotan susu yang memiliki duri rapat juga melintang diantara pepohonan. Selain itu bisa dengan mudah melihat rotan Tohiti yang memiliki nilai ekonomis tinggi, rotan ini dikenal warna dan kehalusannya.



“Sebenarnya yang paling pas daerah ini dinamakan Suaka Marga Satwa Rao karena banyaknya pohon rao raksasa. Batangnya demikian besar menjadi daya tarik siapa saja yang datang di hutan ini” lanjutnya.
Keunikan dan kekayaan keanekaragaman hayati ini telah menarik sejumlah broadcasting internasional untuk mengabadikannya, tercatat BBC London, NHK Jepang, TV Perancis telah mengabadikannya, demikian juga media nasional. Hutan Nantu merupakan laboratorium alam terlengkap dan terbaik dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya satwa dan flora endemik Sulawesi.

“Hutan hujan tropis ini masih perawan, tempat hidup satwa khas Sulawesi. Masyarakat, sekolah, perguruan tinggi dan peneliti Gorontalo harus mampu menjadikannya sebagai pusat studi lingkungan yang baik” kata Razif Uno saat menuju Adudu, tempat satwa biasa mimum air yang mengandung sulphur dan garam. Ia yakin, masih banyak spesies yang belum ditemukan dan dipelajari di kawasan ini. Ini merupakan tantangan pememrintah dan masyarakat ke depan.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

nice...

Posting Komentar